resizedimage-phpjasa2 ezgif.com-resize resizedimage-phpjuara3
 Obat Pembesar Penis
Balo Goal Bandar Bola bandar poker bandar poker Bandar Q Untitled-mantap728x90
Home » Cerita Sex Janda » Cerita Sex: Mbak Nanik Janda Seksi

Cerita Sex: Mbak Nanik Janda Seksi

resizedimage.php

Cersex web dewasa yg berisikan cerita sex, cerita nyata, cerita ngentot, cerita mesum, cerita dewasa “Cerita Sex: Mbak Nanik Janda Seksi” dan foto sex bugil tante bispak abg hot terbaru 2016

cerita sex jandaCerita Sex: Mbak Nanik Janda Seksi

Cerita sex terbaru, Sebelumnya saya perkenalkan diri terlebih dahulu, nama saya Rahmat (samaran), usia saya saat ini adalah 37 tahun. Kejadian ini adalah kisah nyata hidup saya yg terjadi sepuluh tahun yg lalu, jadi saat itu usia saya baru sekitar 27 tahun.

Sebelum saya ceritakan pengalaman sex saya dengan Mbak Nanik, perlu saya sampaikan juga bahwa (mungkin) saya mengidap suatu kelainan, yaitu saya lebih tertarik dengan wanita yg usianya sebaya dengan saya ataupun lebih tua, meskipun saya tdk terlalu menolak dengan wanita yg usianya dibawah saya. Hampir semua (tapi tdk 100%), pacar-pacar saya ataupun teman-teman kencan saya biasanya memiliki usia sebaya ataupun lebih tua. Tetapi istri saya saat ini memang lebih muda dari saya lima tahun.

Saya menyukai wanita yg lebih tua, karena saya merasa kalau bermain cinta dengan mereka, saya merasakan ada sensasi tersendiri. Terlebih kalau teman kencan saya seorang janda, saya akan semakin menikmati permainan-permainannya dengan baik. Saya mempunyai seorang tetangga, sekaligus kawan bermain, tetapi usianya 3 tahun dibawah saya, sebut saja namanya Adit (nama samaran).

Saya berkawan dan bersahabat dengan dia sudah sejak kecil. Hubungan saya dengan Adit sudah seperti kakak beradik. Kami saling bermain, saya ke rumahnya ataupun dia yg ke rumahku. Makan dan terkadang tidur pun kami sering bersama. Adit ini anak tertua dari 4 bersaudara. Ayahnya meninggal dunia ketika dia berumur 15 tahun.

Adit ini mempunyai ibu, namanya Nanik. Meskipun Mbak Nanik ini ibu dari teman dekat saya, tetapi saya memanggilnya tetap dengan panggilan mbak, bukan tante (saya tdk tahu kenapa memanggilnya mbak, mungkin saya ikut-ikutan ibu saya). Karena saya sudah terbiasa bergaul dengan keluarga Mbak Nanik, maka Mbak Nanik menganggap saya sudah seperti anaknya sendiri. Sehingga Mbak Nanik tdk merasa malu untuk bertingkah wajar di hadapanku, terutama sekali dia sudah terbiasa berpakaian minim, meskipun saya ada di depannya.

Apabila selesai mandi, dan keluar dari kamar mandi, Mbak Nanik tanpa malu-malu jalan di hadapan saya hanya dengan melilitkan handuk di tubuhnya. Sehingga dengan jelas sekali terlihat kemolekan tubuhnya. Warna kulitnya yg kuning bersih, dengan bentuk pantat yg bulat dan sintal, serta sepasang lengan yg indah dengan bebasnya dapat dipandangi, meskipun saya pada saat itu masih SD ataupun SMP, tetapi secara naluri, saya sudah ingin juga melihat kemolekan tubuh Mbak Nanik.

Hubungan dengan Adit tetap baik, meskipun saya sudah pindah rumah (meskipun dalam satu kota) dan meskipun saya sudah kuliah ke lain kota, hubungan saya dengan keluarga Mbak Nanik juga tetap tdk berubah. Kalau saya pulang ke rumah sebulan sekali, saya selalu sempatkan main ke rumah Adit.

Setelah kematian suaminya, Mbak Nanik selama kurang lebih 8 tahun tetap menjanda. Meskipun sebenarnya banyak laki-laki yg tertarik padanya, karena Mbak Nanik ini orangnya cantik, seksi, kulitnya kuning, bicaranya ramah dan supel. Penampilannya selalu nampak bersih (selalu bermake-up setiap saat). Tetapi semuanya ditolak, karena alasan Mbak Nanik pada saat itu katanya lebih berkonsentrasi untuk dia dalam mengasuh anak-anaknya.

Tetapi setelah 8 tahun menjanda, akhirnya dia menikah dengan seorang duda tua yg meskipun kaya raya tetapi sakit-sakitan (Mbak Nanik mau menikah dengan dia karena alasan ekonomi). Tetapi perkawinan ini hanya bertahan kurang lebih 2 tahun, karena suaminya yg baru ini akhirnya juga meninggal.

Setelah saya Dewasa, rasa tertarik saya dengan Mbak Nanik semakin menggebu. Tubuh yg seksi, pantat yg padat, dan betis yg kecil serta indah selalu menjadi sasaran mata saya. Terkadang saya sering mencuri pandang dengan Mbak Nanik, pada saat ngobrol dengan Adit dankebetulan Mbak Nanik lewat. Apalagi kalau sedang ngobrol dengan Adit dan Mbak Nanik ikut, wah rasanya jadi senang sekali. Bahkan sering saya sengaja main ke rumah Adit, dimana pada saat Adit tdk ada di rumah, sehingga saya dengan leluasa dapat ngobrol berdua dengan Mbak Nanik.

Meskipun keinginan untuk bercinta dengan Mbak Nanik selalu menggebu, tetapi saya masih kesulitan untuk mencari cara memulainya. Terkadang rasa ragu dan malu selalu menghantui, takut kalau nanti Mbak Nanik menolak untuk diajak bercinta. Tetapi kalau kemauan sudah kuat, segala cara akan ditempuh demi tercapainya keinginan. Hal ini terjadi secara kebetulan, ketika suatu sore MBak Nanik minta tolong saya untuk mengantarkan melihat komplek perumahan yg baru di pinggiran kota, karena dia bermaksud membeli rumah kecil di komplek perumahan tersebut.

Kami berdua berangkat dengan memakai mobil saya. Karena lokasinya masih baru dan masih dalam tahap pembangunan, sehingga sesampainya di lokasi, suasananya terlihat sepi, tdk ada seorang pun di tempat itu. Kami berdua berkeliling-keliling dengan berjalan kaki melihat-lihat rumah-rumah yg baru dibangun. Saya ajak Mbak Nanik masuk ke salah satu rumah yg sedang dibangun, yg tentunya masih kosong, kami melihat-lihat ke dalamnya.

Kami berjalan berdampingan, dan setelah masuk ke salah satu rumah yg sedang dibangun. Dengan tiba-tiba saya dekap pundaknya, saya rekatkan ke dada saya, perasaan saya pada saat itu tdk menentu, antara senang, takut kalau-kalau dia marah dan menampar saya, danperasaan birahi yg sudah sangat menggebu. Tetapi syukur, ternyata dia hanya tersenyum memandang saya. Melihat tdk ada penolakan yg berarti, saya mulai berani untuk mencium pipinya, lagi-lagi dia hanya tersenyum malu sambil pura-pura menjauhkan diri dan sambil berkata,

“Ach.. Rahmat ini ada-ada saja..”

Saya berkata,

“Mbak Nanik marah yaa..?”

Dia hanya menjawab dengan gelengan kepala dan sambil tersenyum terus menundukkan kepala.

Melihat bahasa tubuh yg menunjukkan “lampu Hijau”, serangan saya semakin berani. Saya mengejarnya dan mendekapnya, dan akhirnya saya berhasil mencium bibirnya yg tipis, mungil dan berkilat oleh lipstick yg selalu menghiasi bibirnya. Sambil saya bersandar di dinding, saya dekap dengan erat tubuh Mbak Nanik.

Saya cium bibirnya, “Uhhmm..” dia bergumam dan balas memeluk dengan erat.

Ternyata tanpa diduga, Mbak Nanik membalas ciuman saya dengan bergairah. Saya kembali balas ciumannya yg sangat bergairah dengan permainan lidah saya. Lidah kami sudah menari-nari. Kedua tangan saya sudah mencari sasaran-sasaran yg sensitif. Bukit kembarnya yg mungil tapi masih padat dan terlihat seksi menjadi sasaran kedua tangan saya.

Kedua bukit kembar ini sudah lama kuidam-idamkan untuk menjamahnya. Kami berciuman agak lama. Nafas Mbak Nanik semakin memburu. Ciuman, saya alihkan dari bibirnya yg mungil turun ke lehernya. Dia menengadahkan wajahnya sambil matanya terpejam. Menikmati rangsangan kenikmatan yg sudah lama tdk dia rasakan.

“Uchmm.. mm..” mulutnya selalu bergumam, tandanya dia menikmatinya.

Kedua tanganku saya dekapkan ke pantatnya yg bulat dan seksi. Sehingga tubuhnya semakin marapat ke tubuh saya. Dekapan kedua tangannya ke leher saya semakin diperkuat, seiring dengan lenguhan bibirnya yg semakin panjang,
“Uuucchmm.. mm.”

Batang kejantanan yg tegang sejak berangkat dari rumahnya Mbak Nanik, kini ditekan dengan kencang oleh tubuh Mbak Nanik yg bergoyang-goyang. Rasa nikmat menjalar dari batang kejantananku mengalir naik ke ubun-ubun. Ciumanku terus turun setelah beberapa lama singgah di lehernya, turun menuruni celah bukit kembarnya. Kedua BH-nya yg berwarna merah muda, serasi dengan kulitnya yg langsat, semakin menambah indahnya susu Mbak Nanik.

Karena tubuh Mbak Nanik agak kecil, saya agak sedikit berjongkok, agar mampu mencium kedua susunya yg sudah mengeras. Kedua tangan saya pergunakan untuk menahan punggungnya yg mulai melengkung atas sensasi ciuman saya ke susunya. Deru nafas Mbak Nanik semakin memburu.

Gesekan tubuhnya ke batang keperkasaan saya semakin cepat frekuensinya, dan akhirnya,

“Udach acch Rahmati.. jangan disini, nggak enak kalau nanti ketahuan..” sambil berusaha melepaskan tubuhnya dari dekapan saya.
“Sebentar Mmmbbak..!” jawab saya dengan mulut tdk bergeser dari susunya.
“Rahmat, nanti kita lannjuttkan saja di llain ttemmpat..” suranya terputus-putus karena tersengal oleh nafasnya yg memburu.
“Oke dech Mbak Nanik, tapi Mbak Nanik harus janji dulu, kapan dilanjutkannya dan dimana..?” tanyaku sambil masih mendekap dengan erat tubuh Mbak Nanik.

“Besok pagi saja di rumahku jam 10. Karena kalau pagi rumahku sepi.”
“Oke dech, besok pagi jam sepuluh saya datang lagi.”
“Yuk kita pulang, anter aku dulu ke rumah, anak nakaall..!” pinta Mbak Nanik manja sambil mencubit hidungku.
“Aku antar ke rumah, tapi kasih dulu uang muka untuk besok pagi.” sambil mengarahkan ciuman saya ke bibirnya sekali lagi sebagai uang muka untuk besok pagi.

Dia belum sempat tersenyum karena bibirnya sudah kukulum dengan mesranya.

Hari mulai gelap dan gerimis mengiringi kepulangan kami. Kami berjalan pulang ke rumah Mbak Nanik, tetapi suasana dalam perjalanan pulang sudah jauh berbeda dengan suasana ketika kami berangkat tadi. Karena ketika kami berangkat tadi, perilaku kami sebagai seorang tante dengan “keponakannya”, tapi sekarang sudah berubah menjadi perjalanan seorang tante dengan “keenakannya”.

Selama perjalanan, Mbak Nanik menggoda saya,

“Waduh.., ternyata selama ini saya salah, saya kirain Rahmat itu orangnya alim, tapi ternyata..”
“Ternyata enak khan..?” goda saya sambil mencubit dagunya yg menggemaskan. Kami berdua tertawa berderai.
“Kalau tahu gitu, mending dari dulu yaa..?” kata Mbak Nanik menggoda.
“Iya kalau dari dulu, vagina Mbak Nanik mungkin tdk karatan ya..?” balasku menggoda.
“Emangnya besi tua..!” jawab Mbak Nanik bersungut.
“Bukan besi tua, tapi besi pusaka.” jawab saya.

Selama perjalanan, tangan Mbak Nanik tdk henti-hentinya selalu meremas tangan saya yg sebelah kiri (sebelah kanan untuk pegang setir). Tangan saya baru dilepaskan ketika saya pergunakan untuk pindah gigi saja. Selebihnya selalu dipegang dan diremas-remas oleh Mbak Nanik.

“Mbak.., jangan tanganku aja donk yg diremas-remas..!” pinta saya dengan manja.
“Lha yg mana lagi yg minta diremas..?”
“Ya yg nggak ada tulangnya donk yg diremas.”
“Dasar anak nakal.” Mbak Nanik tersenyum, tapi tangannya beralih untuk meremas rudal yg masih tegang belum tersalurkan.

Ternyata Mbak Nanik tdk hanya meremas rudal saya saja, melainkan juga menciuminya.

“Mbak.., bebas aja lho Mbak, jangan sungkan-sungkan, anggap aja milik sendiri.” goda saya sambil tersenyum.
“Terus minta diapakan lagi..?” pancing Mbak Nanik.
“Yaa.., kalau mau dikulum juga boleh.” jawab saya.
“Emangnya nggak kelihatan orang..?” tanyanya ragu.
“Khan udah malem, lagian hujan, pasti nggak kelihatan.”

Tanpa menunggu jawaban, tangan Mbak Nanik sudah mulai membuka resluiting celana dan mengeluarkan rudal saya. Saya geser kursi saya agak ke belakang, agar Mbak Nanik dapat leluasa mempermainkan rudal indah milik saya. Dirabanya rudal itu dan diciuminya, akhirnya bibirnya yg mungil mengulum dan menjilatinya. Terasa mendapat aliran listrik yg menggetarkan ketika lidah Mbak Nanik menjilati kepala rudal saya. Dan terasa hangat dan basah ketika mulutnya mengulum batang kejantanan saya yg semakin menegang. Dua perasaan yg penuh sensasi berganti-ganti saya rasakan. Antara getaran karena jilatan lidah dan hangatnya kuluman saling berganti. Kedua kaki terasa tegang, dan pantat saya tdk terasa terangkat karena sensasi yg ditimbulkan oleh kuluman bibir Mbak Nanik yg ternyata sangat ahli.

Untuk menghindari konsentrasi yg terpecah, terpaksa saya meminggirkan mobil ke jalur lambat, dan memberhentikan mobil. Keadaan sangat mendukung, karena pada saat itu tepat dengan turunnya hujan, dan lalu lintas kendaraan agak sepi, sehingga kami berdua tdk merasa terganggu untuk melanjutkan permainan di dalam mobil.

Mbak Nanik mengulum kemaluan saya dengan semangat. Kepalanya terlihat turun naik-turun naik yg terkadang cepat, terkadang lambat. Mulutnya terus bergumam, sebagai tanda bahwa dia juga menikmatinya. Kedua tangan saya memegang kepala Mbak Nanik naik-turun mengikuti gerakannya. Kaki semakin kejang dengan pantat saya yg naik turun akibat rasa sensasi yg luar biasa. Untuk mengimbangi permainannya, pantat Mbak Nanik yg terlihat nungging, saya remas dengan tangan kiri, sementara tangan kanan masih membelai susu Mbak Nanik, saya remas dengan pelan kedua susunya bergantian dengan tangan kanan.

Resluiting rok bawahnya yg ada di pantat, mulai saya buka, terlihat CD-nya yg berwarna merah muda. Saya masukkan tangan kiri ke dalam CD-nya dan meremas dengan gemas pantatnya yg padat berisi. Tangan saya bergerak turun menelusuri celah pantatnya, dan sekarang menuju liang kemaluannya. Kemaluannya saya sentuh dari belakang, dan terasa sudah sangat basah dan merekah.

Saya belai-belai bibir luar kewanitaannya dan akhirnya saya belai-belai klitnya. Merasa klitnya tersentuh oleh jari saya, pantat Mbak Nanik semakin dinaikkan, dan terasa tegang, kuluman ke batang kejantanan saya semakin kencang. Tangan kanan saya masih meremas-remas susunya yg semakin tegak. Melihat perpaduan antara belaian klitoris, remasan susu dan kuluman rudal, suara kami jadi semakin maracau.

Pantat kami semakin naik turun. Erangan kenikmatan dan sensasi aliran listrik menjalar ke sekujur tubuh kami. Tiba-tiba Mbak Nanik melepaskan kulumannya. Dia kembali ke posisi duduk dan telentang sambil matanya tetap terpejam oleh kenikmatan yg sudah bertahun-tahun tdk dirasakan. Saya tahu maksudnya, bahwa dia minta gantian agar kewanitaannya dijilati.

Saya singkapkan roknya, dan Mbak Nanik dengan tergesa-gesa melepaskan sendiri CD-nya, seakan tdk sabar dan tdk ingin ada waktu luang yg terputus. Kedua kakinya sudah ditelentangkan, kemaluannya yg mungil dengan bulu-bulu halus dan terawat sudah kelihatan merekah. Saya dekatkan mulut saya ke liang senggamanya, tetapi saya baru akan menjilati kedua selangkangannya terlebih dahulu. Dia meremas-remas rambut saya. Kedua kakinya mengejang-ngejang dan bergerak-gerak tdk terkontrol. Pantatnya digerak-gerakkan naik turun. Ini artinya Mbak Nanik sudah sangat penasaran dan sangat gemas agar kemaluannya ingin dijilati. Dia kelihatan penasaran sekali. Saya jilati bibir kemaluannya.

Harumnya yg khas kemaluan wanita semakin merangsang saya. Remasan-remasan di kepala saya semakin kuat. Akhirnya saya buka bibir kemaluannya, saya jilati klitorisnya. Ketika lidah saya menyentuh klitorisnya, nafas lega dan erangan kenikmatan keluar dari mulutnya.

“Uuuhh.. uhh.. uughh..!” terus menerus keluar dari mulutnya.

Kepalanya selalu bergoyang-goyang ke kanan dan ke kiri. Remasan remasan tangan kirinya sekarang beralih ke punggung saya, sedangkan tangan kanannya berusaha mencari batang keperkasaan saya dan akhirnya meremas-remas dan mengocoknya. Tangan yg lembut dengan kocokan dan remasan yg halus, memijat-mijat batang kejantanan saya, memberikan sensasi tersendiri pada rudal kebanggaan milik saya.

Lidah saya berputar-putar di klitorisnya, usapan-usapan lidah di dinding vagina, terkadang saya selingi dengan isapan dan gigitan halus di klitorisnya, membuat dia semakin marancu,

“Uuugghh.. geellii banggeett..! Uuuff.., ggellii bannget..! Uuff ggllii..”

Dan secara tiba-tiba kedua tangannya mencakar punggung saya, kedua kakinya menegang, dadanya membusung naik diikuti dengan getaran tubuh yg hebat sambil mengerang,

“Uuugghhff Raaahhhmaaattt.., uuff aku mmauu kkeelluua.. aarr..”

Nafasnya tersengal dan memburu, tandanya dia sudah sampai di puncak kenikmatan seorang wanita.

“Rrraahhmatt.., kamu belum yaa..? Sini kukulum biar cepet nyampai.” suara Mbak Nanik sambil nafasnya masih memburu.

Dia membungkuk di pangkuan saya, saya telentang di jok. Dia kembali mengulum batang kejantanan saya. Bibir yg manis dan mungil kembali mengocok-ngocok rudal saya. Lidahnya dengan lembut menyapu kepala kemaluan saya. Sensasi yg tadi sempat terputus, kembali dapat saya rasakan. Kaki saya menegang, pantatku terangkat, tangan saya meremas-remas kedua pipinya.

Aliran listrik menjalar dari kepala kejantanan saya, naik ke ubun-ubun dan sekujur tubuh. Aliran tersebut kembali lagi bersama-sama mengarah ke ujung rudal saya, ke kepala kemaluan saya, dan akhirnya keluar bersama-sama dengan cairan putih dan kental ke mulut Mbak Nanik, ke bibir Mbak Nanik, ke hidungnya dan ke pipinya, banyak sekali. Seakan-akan habis sudah cairan yg ada di tubuh ini, lemas kedua tubuh kami. Untuk sejenak kami berdua berdiam diri, untuk menikmati sensasi kami, untuk mengatur nafas kami dan untuk menenangkan emosi kami.

Kami berdua telentang di jok kami masing-masing, dengan kemaluan kami yg masih terbuka. Kami saling berpandangan dan tersenyum puas. Tangan kanan Mbak Nanik meremas tangan kiriku, saya tdk tahu apa artinya, apakah ucapan terima kasih, pujian ataukah janji untuk mengulangi lagi apa yg telah kami lakukan.

Setelah istirahat sejenak, Mbak Nanik mengambil tisue dan membersihkan cairan kental yg belepotan di perutku dan kemaluan saya. Mbak Nanik memmbersihkannya dengan mesra dan terkadang bercanda dengan mencoba meremas dan membangunkan kembali rudal saya.

“Mbak. Jangan digoda lagi lho, kalau ngamuk lagi gimana..?” kataku bercanda.
“Coba aja kalau berani, siapa takut..!” jawabnya sambil menirukan iklan di TV.

Setelah membersihkan kemaluanku, dia juga membersihkan kemaluannya dengan tisue, dan memakai kembali CD-nya, merapihkan rok, blus dan BH-nya yg kusut. Sementara saya juga merapihkan kembali celana saya.

Dia menyisir rambutnya, dan merapikan kembali riasan wajahnya, sambil melirik dan tersenyum ke saya penuh bahagia.

“Mbak.., besok tetap lho ya jam sepuluh pagi.” saya mengingatkan.
“Pasti donk, mana sih yg nggak pengin sarang burungnya dimasukin burung.” canda dia.
“Apalagi sarangnya sudah kosong lama ya Mbak..?” godaku.
“Pasti enak kok kalau udah lama.” jawab dia.

Setelah kami semua rapih, Mbak Nanik aku antar pulang dengan tetap berdekapan, dia tertidur di dadaku, tangan kiri saya untuk mendekap dia dan tangan kanan saya untuk pegang stir.

Sesampainya di rumah MBak Nanik, cuaca masih gerimis. Mbak Nanik menawarkan untuk mampir sebentar di rumah.

“Mat, masuk dulu yuk..! Aku buatkan kopi hangat kesukaanmu.” ajak Mbak Nanik.
“Oke dech, aku parkir dulu mobilnya ya..?”

Sampai di dalam rumah Mbak Nanik, ternyata Adit tdk ada. Menurut Bi Inah, pembantu Mbak Nanik, katanya Adit hari ini tdk pulang, karena diminta atasannya dinas ke luar kota.

“Mat, ternyata Adit malam ini nggak pulang. Kamu tidur aja disini, di kamar Adit.” pinta Mbak Nanik sambil senyum penuh arti.

Aku tahu kemana arah pembicaraan Mbak Nanik.

“Nggak mau kalau tidur di kamar Adit, aku takut sendirian.” godaku.
“Emangnya takut sama siapa..?”
“Ya takut kalau Mbak Nanik nanti nggak nyusul ke kamarku.”
“Ssstt..! Jangan keras-keras, nanti ada yg denger.” Mbak Nanik cemberut, takut kalau ada yg dengar.
“Ya udah, aku tidur sendiri di kamar Adit, kalau nanti malam saya dimakan semut, jangan heran lho Mbak..!” saya pura-pura merajuk.
“Nggak usah ribut, mandi sana dulu, nanti malam kalau semua orang udah pada tidur, kamu boleh nyusul aku ke kamar, nggak saya kunci kamarku.” bisik Mbak Nanik pelan.
“Siip dach..!” aku ceria dan langsung pergi mandi.

Habis mandi, badan saya terasa segar kembali. Saya langsung pergi ke kamar, pura-pura tidur. Tetapi di dalam kamar saya membayangkan apa yg akan saya lakukan nanti setelah berada di kamar Mbak Nanik. Saya akan bercinta dengan orang yg sudah bertahun-tahun saya idamkan.

Jam di kamar saya menunjukkan pukul 12:30 malam. Kudengarkan kondisi di luar kamar sudah kelihatan sepi. Tdk terdengar suara apapun. TV di ruang keluarga juga sudah dimatikan Bi Inah kira-kira jam 11 tadi. Bi Inah adalah orang yg terakhir nonton TV setelah acara Srimulat yg merupakan acara kegemaran Bi Inah. Untuk mempelajari suasana, saya keluar pura-pura pergi ke kamar mandi. setelah benar-benar sepi, saya mengendap-endap masuk ke kamar Mbak Nanik.

Lampu di kamar Mbak Nanik remang-remang. Mbak Nanik tidur telentang dengan mengenakan daster tipis yg semakin memperindah lekuk tubuh Mbak Nanik. Tubuh Mbak Nanik yg mungil tapi padat berisi, terlihat tampak sempurna dibalut daster tersebut. Dengan tdk sabar saya dekap tubuh Mbak Nanik yg sedang telentang bagaikan landasan yg sedang menunggu pesawatnya mendarat. baca juga cerita sex lainya di seksigo.com

Mbak Nanik saya dekap hanya tersenyum sambil berbisik,

“Sudah nggak sabar ya..?”
“Ya Mbak, perasaan waktu kok berjalan pelaan sekali..”

Saya cium belakang telinganya yg mungil dan ranum, kemudian ciuman saya bergeser ke pipinya dan akhirnya ke bibirnya yg mungil dan juga ranum. Kedua tangan Mbak Nanik mendekap erat di leher saya. Tangan saya yg kiri saya letakkan di bawah kepala Mbak Nanik untuk merangkulnya. Sedangkan tangan kanan saya gunakan untuk membelai dan melingkari sekitar susunya. Dan dengan perlahan dan lembut, telapak tangan saya gunakan untuk meremas-remas lingkaran luar payudaranya, dan ternyata Mbak Nanik sudah tdk memakai BH lagi.

Erangan-erangan lembut Mbak Nanik mulai keluar dari bibirnya, sedangkan kedua kakinya bergerak-gerak menandakan birahinya mulai timbul. Remasan-remasan tanganku di seputar susunya mendapatkan reaksi balasan yg cukup baik, karena kekenyalan susu Mbak Nanik kelihatan semakin bertambah. Tangan kanan saya geserkan ke bawah, sebentar mengusap perutnya, beralih ke pusarnya, dan akhirnya saya gunakan untuk mengusap kewanitaannya. Ternyata Mbak Nanik juga sudah tdk memakai CD, sehingga kemaluannya yg bulat dan mononjol, serta kelembutan rambut kemaluannya dapat saya rasakan dari luar dasternya.

Kedua kakinya semakin melebar, memberikan kesempatan seluas-luasnya tangan saya untuk membelai-belai kewanitaannya. Ciuman saya beberapa saat mendarat di bibirnya, kemudian saya alihkan turun ke lehernya, ke belakang telinganya, dan akhirnya turun ke bawah, melewati celah di bukit kembarnya. Saya ciumi lingkaran luar bukit kembarnya, sebelum akhirnya menyiumi puting susunya yg sudah mengacung. Ketika lidah saya menyium sampai ke putingnya, nafas Mbak Nanik kelihatan mengangsur, menunjukkan kelegaan.

“Uuuccghh.. Rahmaatt..!”

Tali daster yg menggantung di pundaknya, saya pelorotkan sehingga menyembullah kedua bukit kembarnya yg kenyal, dengan kedua putingnya yg sudah mengacung dan tegang. Saya ciumi sekali lagi kedua bukit kembarnya, dan saya jilati putingnya dengan lidah. Sementara kedua jari dari tangan kanan saya secara bersamaan membelai-belai kedua selangkangannya, yg terkadang diselingi dengan usapan kemaluan luarnya dengan telapak tangan kanan saya. Belaian ini memberikan kehangatan di bibir kewanitaannya, selain untuk meningkatkan rasa penasaran liang senggamanya.

Jari tengah saya gunakan untuk mebelai-belai bibir luar kemaluannya yg sudah sangat basah. Saya usap klitorisnya dengan lembut dan pelan dengan menggunakan ujung jari, membuat Mbak Nanik semakin menikmati belaian lembut klitorisnya. Bibir kewanitaannya semakin merekah dan semakin basah.

Lidahku masih menari-nari di kedua putingnya yg semakin keras, jilatan lidah saya memberikan sensasi yg kuat bagi Mbak Nanik. Terbukti dia semakin erat meremas rambut saya, deru nafasnya semakin memburu dan lenguhannya semakin kencang.

“Uuuccgghh.. Rahhmmaaattt.. uugghh.. eennaaggkk..”

Saya jilati kedua putingnya kanan dan kiri bergantian, sambil meremasi dengan lembut tetapi sedikit menekan kedua susunya dengan kedua tangan saya.

Setelah saya puas menciumi susunya, ciuman saya geser ke arah perutnya, saya jilati pusarnya, kembali Mbak Nanik sedikit menggelinjang, mungkin karena kegelian. Ciuman terus saya geser ke bawah, ke arah pahanya, turun ke bawah betisnya, terus naik lagi ke atas pahanya, kemudian ciuman saya arahkan ke rambut kemaluannya yg lebat. Mendapat ciuman di rambut kemaluannya, kembali Mbak Nanik menggelinjang-gelinjang. Saya buka bibir kemaluannya yg merekah, saya ciumi dan jilati seputar bibir kewanitaannya, terus lidah saya diusapkan ke klitorisnya, dan bergantian saya gigit, terkadang saya hisap klitorisnya.

Setiap sentuhan lidah saya menjilat pada klitorisnya, tangan Mbak Nanik menjambak rambut saya. Kepalanya menggeleng-geleng, dengan dada yg dibusungkan, kedua kakinya mendekap erat leher saya, dan kicaunya semakin tdk karuan,

“Uuuccgghh.. Rahmaaattt.. uughh.. ggeellii.. uuff.. ggeellii.. seekkaallii..”

Cairan yg keluar dari kemaluannya semakin banyak, bau khas liang senggamanya semakin kuat menyengat. Rintihan, lenguhan yg keluar dari mulut Mbak Nanik semakin kacau. Gerakan-gerakan tubuh, kaki dan gelengan-gelengan kepala Mbak Nanik semakin kencang. Dadanya tiba-tiba dibusungkan, kedua kakinya tegang dan menjepit kepala saya. Saya mengerti kalau saat ini detik-detik orgasme akan segera melanda Mbak Nanik. Untuk memberikan tambahan sensasi kepada Mbak Nanik, maka kedua putingnya saya usap-usap dengan kedua jari tangan, dengan mulut tetap menyedot dan menghisap klitorisnya, maka tiba-tiba,

“Aaauughh.. Rahmaaatttt aakk.. kkuu.. kkeelluuarr.. Aaacchh..!”

Saya tetap menghisap klitorisnya. Dan dengan nafas masih terengah-engah, Mbak Nanik bangun dan duduk.

“Ayo Rahmat.., gantian kamu tidur aja telentang..!” kata Mbak Nanik sambil menidurkan saya telentang.

Gantian Mbak Nanik telungkup di samping saya. Tangannya yg lembut sudah mulai mengelus-elus batang kemaluan saya yg sudah sangat tegang. Mulutnya yg mungil mencium bibir, terus turun ke puting. Saya merasa sedikit kegelian ketika dicium puting saya. Mulutnya terus turun mencium pusar, dan akhirnya saya rasakan ada rasa hangat, basah dan sedikit sedotan sudah menjalar di rudal saya. Ternyata Mbak Nanik mulai mengocok dan mengulum kejantanan saya. Mbak Nanik mengulumnya dengan penuh nafsu. Matanya terpejam tetapi kepalanya turun naik untuk mengocok rudal saya.

Kepala kemaluan saya dijilatinya dengan lidah. Tekstur lidah yg lembut tapi sedikit kasar, membuat seakan ujung jari kaki saya terasa ada getaran listrik yg menjalar di seluruh kepala. Jilatan lidah di kepala rudal memang sangat enak. Aliran listrik terus menerus menjalar di sekujur tubuh saya. Kepala Mbak Nanik yg naik turun mengocok kejantanan saya yg saya bantu pegangi dengan kedua tangan.

Kocokannya semakin lama semakin kuat, dan hisapan mulutnya seakan meremas-remas seluruh batang keperkasaan saya. Seluruh pori-pori tubuh saya seakan bergetar dan bergolak. Getaran-getaran yg menjalar dari ujung kaki dan dari ujung rambut kepala, seakan mengalir dan bersatu menuju satu titik, yaitu ke arah rudal keperkasaan saya.

Getaran-getaran tersebut makin hebat, akhirnya kemaluan saya menjadi seolah tanggul yg menahan air gejolak. Lama-lama pertahanan kemaluanku seakan jebol, dan tiba-tiba saya menjerit.

“Mmmbbakk Naaanniikkk.. aaggkkuu kkelluuaarr..!”

Mendengar saya mengerang mau keluar, mulut Mbak Nanik tdk mau melepaskan batang kejantanan saya, tetapi malah kulumannya dipererat. Mulut Mbak Nanik menyedot-nyedot cairan yg keluar dari rudal saya dengan lahapnya, seakan tdk boleh ada yg tersisa. Batang kemaluan saya dihisap-hisapnya seakan menghisap es lilin. Sensasinya sungguh sangat dahsyat. Ternyata Mbak Nanik sangat ahli dalam permainan oral.

Nafas saya sedikit tersengal, badan sedikit lemas, karena seakan-akan semua cairan yg ada di tubuh, mulai dari ujung kaki sampai dengan kepala, habis keluar tersedot oleh Mbak Nanik. Mbak Nanik tersenyum puas sambil menggoda,

“Gimana rasanya..?”
“Waduh.., Mbak luar biasa..” jawabku sambil masih terengah-engah.
“Nggak kalahkan dengan yg muda..?” kata Mbak Nanik dengan berbangga.
“Yaa jelas yg lebih pengalaman donk yg lebih nikmat.”

Kami istirahat sejenak sambil minum. Tetapi ternyata Mbak Nanik memang luar biasa. Baru istirahat beberapa menit, tangannya sudah mulai bergerak-gerak di perut, di paha dan di selangkangan saya, membuat rasa geli di sekujur tubuh. Tangannya kembali meremas-remasbatang kemaluan saya. Karena masih darah muda, maka hanya sedikit sentuhan, kemaluan saya langsung berdiri dengan gagahnya mencari sasaran. Melihat batang keperksaan saya dengan cepatnya berdiri lagi, wajah Mbak Nanik kelihatan berseri-seri.

Sambil tangannya tetap mengocoknya, kami saling berciuman. Bibir Mbak Nanik yg mungil memang sangat merangsang semua laki-laki yg melihatnya. Ciuman yg lembut dengan usapan-usapan tangan saya ke arah putingnya, membuat birahi Mbak Nanik juga cepat naik. Putingnya seakan-akan menjadi tombol birahi. Begitu puting Mbak Nanik disenggol, lenguhan nafasnya langsung mengencang, kedua kakinya bergerak-gerak, pertanda birahinya menggebu-gebu.

Saya usap liang senggamanya dengan tangan, ternyata liang kenikmatan Mbak Nanik sudah sangat basah.

“Gila bener cewek ini, cepet sekali birahinya..,” pikir saya dalam hati.

Mbak Nanik menarik-narik punggung saya, seakan-akan memberi kode agar senjata rudal saya segera dimasukkan ke sarangnya yg sudah lama tdk dikunjungi burung pusaka.

“Ayo dong Mat..! Cepetan, Mbak sudah nggak tahan nich..!”

Alat vital saya sudah semakin tegang, dan saya sudah tdk sabar untuk merasakan kemaluan Mbak Nanik yg mungil. Saya sapukan perlahan-lahan kepala kejantanan saya di bibir kewanitaannya. Kelihatan sekali kalau Mbak Nanik menahan nafas, tandanya agak sedikit tegang, seperti gadis yg baru pertama kali main senggama. Setelah menyapukan kepala rudal saya beberapa kali di bibir kenikmatannya dan di klitorisnya. Akhirnya saya masukkan burung saya ke sarangnya dengan sangat perlahan.

Kedua tangan Mbak Nanik meremas pundak saya. Kepalanya sedikit miring ke kiri, matanya terpejam dan mulutnya sedikit terbuka sangat seksi sekali, tandanya Mbak Nanik sangat menikmati proses pemasukan batang kejantanan saya ke liang senggamanya. Lenguhan lega terdengar ketika kepala kemaluanku membentur di dasar liang kenikmatannya. Saya diamkan beberapa saat rudal saya terbenam di liang senggamanya untuk memberikan kesempatan kemaluan Mbak Nanik merasakan rudal kenikmatan dengan baik.

Saya pompakan batang kejantanan saya ke liang senggama Mbak Nanik dengan metode 10:1, yaitu sepuluh kali tusukan hanya setengah dari seluruh panjang batang kejantanan saya, dan satu kali tusukan penuh seluruh batang kejantanan saya sampai membentur ujung rahimnya. Metoda ini membuat Mbak Nanik merancau tdk karuan. Setiap kali tusukan saya penuh sampai ujung, saya kocok-kocokkan kejantanan saya beberapa lama, akhirnya saya rasakan kaki Mbak Nanik melingkar kuat di pinggang saya.

Kedua tangannya mencengkram punggung saya, dan dadanya diangkat membusung, seluruh badannya tegang mengencang, diikuti dengan lenguhan panjang,

“Aaacchh.. aauugghh.. Rahhmmaattt.. aakku.. kkeelluuaa.. aa.. rr..!”

Batang kemaluan saya terasa sangat basah dan dicengkram sangat kuat. Merasakan remasan-remasan pada rudal saya yg sangat kuat, membuat pertahann saya juga seakan makin jebol dan akhirnya,

“Ccrreet.. creet.. crrettt..!” saya juga keluar.

Setelah permainan itu, saya sering melakukan hubungan seks berkali-kali, bisa seminggu dua kali saya melakukan hubungan seks dengan Mbak Nanik. Ternyata nafsu seks Mbak Nanik cukup besar, kalau satu minggu saya tdk bermain seks dengan Mbak Nanik, pasti Mbak Nanik akan main ke rumah, ataupun setelah bekerja, dia akan menelpon saya di kantor untuk meminta jatah.

Saya melakukan hubungan seks dengan Mbak Nanik bisa dimana saja, asal tempatnya memungkinkan. Baik di rumah saya, di rumah dia, di hotel, di mobil, di garasi, di kamar mandi sambil berendam di bath-tub, di dapur sambil berdiri, bahkan aku pernah bermain seks di atas kap mesin mobil saya. Ternyata berhubungan seks itu kalau dengan perasaan agak takut dan terkadang tergesa-gesa, memberikan pengalaman tersendiri yg cukup mengasyikkan.

***

Cerita sex, cerita nyata, cerita ngentot, cerita mesum, cerita dewasa “Cerita Sex: Mbak Nanik Janda Seksi” dan foto sex bugil tante bispak abg hot terbaru 2016

OBAT PEMBESAR PENIS DI INDONESIA